Mencermati pemuda-pemudi yang ada di kabupaten yang disebut-sebut sebagai kabupaten terkaya ini yang semakin lama semakin mengalami kondisi “amoral” yang kemudian semakin menimbulkan kegelisahan bagi orang-orang yang sadar akan hal itu.
Dalam mencermati fenomena tersebut, muncullah kemudian pertanyaan-pertanyaan yang mencoba menganalisa hal tersebut, kenapa bisa demikian? Dan seperti yang kita ketahui tidak ada akibat jika tidak ada sebab. Dari proses analisis inilah muncullah suatu gagasan saya bahwa paradigma hedonis terjadi akibat dilenakannya pemuda dengan segala kenyamanan-kenyamanan yang mengakibatkan mereka untuk tidak mau berfikir. Mungkin mindset mereka sperti ini “nyawa ni dah nyaman ada rumah ngan orang tuha mampu aja biayai kuliahku sampai dpt kerja nanti”. Tak ayalnya kita diprogram menjadi manusia robot yang dipersiapkan untuk bekerja dan melupakan esensi dan nilai-nilai kemanusiaan.
![]() |
| gunung emas di papua |
Menilai dari perspektif yang berbeda memang harus siap dikatakan orang sebagai orang aneh, dalam hal ini orang-orang khawatir akan habis tergerusnya sumber daya alam seperti batubara dan sebagainya, tapi malah sebaliknya saya menantikan hal itu terjadi, ketika tak ada lagi sumber daya yang diharapkan dari alam maka apakah yang akan kita pikirkan, apa yang akan kita lakukan? Apa kebijakan yang akan dilakukan pemerintah terkait hal itu.
Menengok kepada sejarah, ketika hiroshima dan nagasaki diratakan dengan tanah , maka tak ada yang dapat dilakukan pemerintah dan masyarakat melainkan memikirkan apa yang harus dilakukan tanpa berharap ke SDA lagi, lalu kemudian pemerintah mencari guru-gruru yang masih bertahan hidup pada saat itu dan kemudian dikumpulkan dan dikirim keberbagai negara dengan komitmen agar kembali membangun negara yang telah luluh lantah .
Negara matahari terbit tersebut telah melaju pesat disegala bidang kehidupan, baik itu teknologi, pendidikan, pertanian, dan lain sebagainya. Tentunya hal yang sangat mengejutkan ketika sebuah daratan yang hanya dipenuhi gunung berapi yang masih aktif tersebut kini dengan gagahnya bertengger diatas puncak perjalanan yang sangat memilukan.
Hal ini lah yang dirasa perlu menjadi refleksi bagi kita semua khusunya masyarakat kukar yang sangat membangga-banggakan SDA yang ada, tapi antusiasme untuk membangun kapasitas diri sangat minim. Apakah benar SDA di daerah kita ini anugerah? Apakah batubara yang demikian banyaknya meningkatkan perekonomian bangsa? Apakah minyak yang melimpah- ruah telah membantu mengurangi rakyat miskin? Dan apakah gunung emas di timika patut kita banggakan? Coba renungkan sekali lagi apakah benar atau malah sebaliknya?
Akhirul kalam, billahitaufieq walhidayah wassalamualaikum, Wr, Wb
